Sunday, August 29, 2010

Si "tamu bandel" di Tenggorokan


Radang amandel. Ya, penyakit satu ini kerap mengintai setiap orang, terlebih saat usia anak-anak. Dari usia balita hingga remaja, anak-anak masih rentan menderita radang tonsil atau radang amandel.
            Sebenarnya, amandel ini berupa benda bilat yang berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan. Ia bermanfaat sebagai pendukun sistem pertahanan  tubuh. Pasalnya amandel mempunyai sel khusus yang mampu menangkap serta membunuh bakteri dan virus yang masuk ke dalam mulut atau tenggorokan.
            Nah, lantas radang terjadi karena adanya infeksi di dalam tenggorokan yang membuat pembengkakan amandel. Penyebabnya boleh jadi karena virus dan bakteri. Di samping itu, radang juga dipicu oleh daya tahan tubuh yang lemah, paparan plusi lingkungan, makanan, hingga gejala lanjutan dari pilek.
            Anda sebagai orang tua dapat mencermati gejala yang dialami anak Anda, yang bisa jadi masuk dalam radang gejala amandel.
            Ciri-cirinya antara lain, anak akan mengalami demam, saat menelan mengalami nyeri di tenggorokan, amandel bengkak dan kemerahan bahkan bisa terdapat bercak putih kekuningan, serta kehilangan nafsu makan.
            Kadang-kadang juga terjadi gejala yang mengiringi seperti pembesaran kelenjar pada leher, muntah, sakit kepala, dan nyeri perut.
            Bila sudah terjadi, sebaiknya Anda menganjurkan putera-puteri tercinta untuk menghindari makanan yang terlalu panas, pedas, dan asam. Serta tidak lupa untuk memeriksakannya ke dokter THT.
            Sayangnya, bagi para penderita radang amandel, kerap mereka menganggap penyakit tersebut sebagai momok menakutkan. Pasalnya, bayangan yang menghantui berupa penanganan dengan tindakan pengangkatan amandel melalui operasi.
            Bahkan ada satu lagi momok yang kerap terjadi, bila amandel diangkat, anak tidak lagi mempunyai sistem pertahanan tubuh,
            Padahal, belum tentu penanganan ini harus memakai operasi. Pasalnya, dokter THT akan melihat seberapa jauh tingkat keparahan yang terjadi serta penyebabnya.
            Baru kemudian tindakan penanganan disesuaikan dengan pemberian obat sesuai diagnosa dokter. Operasi baru dilakukan bila pada situasi tertentu. Misalnya saja karena radang tersebut, membuat si anak kesulitan bernapas, terjadi terus menerus kurang lebih tujuh kali  dalam setahun, dan tidak merespons terhadap pengobatan.
            Ditambah bila tindakan operasi akhirnya harus dijalani, setelah amandel diangkat, pertahanan tubuh secara otomatis akan didukung oleh organ imunitas lainnya di sekitar tenggorokan. Jadi, pertahanan tubuh pun akan selalu terjaga. Anda sebagai orang tua pun tidak perlu cemas dengan penyakit ini yang menimpa si buah hati.

Kompas Klasika/ Minggu, 16 Mei 2010